Sunday, November 15, 2015

PRE NURSERY

PERSIAPAN LAHAN
  • Lokasi
    • Pengukuran batas - batas lokasi dan penentuan tatak letak,
    • Dekat dengan sumber air,
    • Dekat dengan sumber top soil yang subur,
    • Usahakan ditengah - tengah rencana lokasi main nursery, supaya mudah saat transplanting,
    • Bukan lokasi yang mudah tergenang air (drainiase baik),
    • Jauh dari ancaman hama seperti pinggiran hutan dengan jarak minimal 20 meter, atau ancaman pencurian seperti pinggiran perkampungan,
    • Usahakan dapat terpantau selama 24 jam (dekat dengan kantor nursery).


  • Pembersihan Areal
    • Setelah batas - batas lokasi diukur, langkah selanjutnya land clearing,
    • Pembersihan lahan dengan cara diimas, tumbang, kemudian diperun, kemudian diratakan menggunakan bulldozer, pastikan tidak ada tanah yang menggunduk supaya tidak ada potensi lokasi genangan air,
    • Sisah - sisah kayu harus dikeluarkan dari areal nursery,
  • Pembuatan Bedengan
    • Secara umum 0.45ha pre nursery dapat menyuplai 1000 ha lahan tanam,
    • Ukuran bedengan panjang 10 m x lebar 80 cm = + 1200 bibit. Untuk panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi dilapangan,
    • Ditepi bedengan diberi papan penyanggah bibit setinggi 10 cm, dengan tebal papan 2 cm,
    • Arah bedengan membujur timur - barat,
    • Jarak antar bedengan 0,6 - 1 meter,
  • Pembuatan Naungan
    • Tinggi tiang 2 meter,
    • Jarak antar tiang 2 meter,
    • Atap naungan menggunakan daun pelepah sawit, atau plastik net 60% shade (kegelapan),
    • 10 minggu setelah tanam ( tumbuh 2 helai daun) naungan dikurangi separuhnya, dan 12 minggu setelah tanam seluruh naungan sudah dibuka,  
  • Pembuatan Jalan
    • Desain jalan harus mempertimbangkan ukuran polybag yang diapakai, , dan  metode penyiraman yang akan dibuat, dan juga perhatikan tiga hal ini yaitu jaringan suplay air utama, pagar, dan sistem irigasi,
    • Lebar jalan 7 meter, dan setiap sisi jalan dibuat parit lebar 0.5 x 0.5 meter - 1 1 x 1 meter,
    • Jalan harus benar - benar bebas dari banjir, tidak mudah becek untuk itu bila perlu dilakukan pengerasan dan pemberian batu,
  • Sumber Air
    • Carilah lokasi pembibitan yang dekat dengan sumber air seperti sungai atau danau yang tidak pernah kering sepanjang tahun,
  • Pembuatan Pagar Konvensional
    • Untuk melindingi dari serangan babi rentangkan kawat berduri pada ketinggian dari permukaan tanah yaitu 30 cm, 60 cm, 90 cm, dan 120 cm,
    • Untuk melindungi dari serangan tikus atau bintang pengerat laiinya buatlah pagar dari seng yang diletakkan serapat mungkin dari tanah setinggi 1 meter,
    • Bisa juga menggunakan bahan dari alam seperti bambu ataupun kayu, namun bagian yang ditanam diberikan,
    • Tiang - tiang terbuat dari benda keras, untuk kayu menggunakan ukuran 10 cm x 10 cm x 180 cm, sedangkan tiang sudur mengunakan ukuran 10 cm x 10 cm x 220 cm, tiang - tiang ini ditanam 60 cm dpt, namun sebelum ditanam tiang - tiang tersebut diberi bahan pengawit anti rayap dan jamur seperti tir,
    • Jarak antar tiang 2 m - 3 m, tergantung jenis hama dilokasi tersebut, semakin besar potensi hama maka tiang - tiang semakin rapat,
    • Pintu pembibitan tidak lebih dari dua pintu, ini untuk mempermudah pengontrolan keluar masuk meterial atau bibit,
    • Apabila terpaksa menggunakan pagar listrik, gunakan tegangan 0.5 - 0.9 volt AC, tentu saja ini adalah pilihan yang paling terakhir.

SISTEM PENYIRAMAN
Pastikan saat penyiraman tanah polybag tidak rusak, gunakan penyiraman dengan cara pengabutan yang bisa menggunakan selang politen perforasi.

POLYBAG KECIL
  • Ukuran polybag kecil tebal 0.075 mm, lebar 15 cm, panjang 23 cm ( 180 lembar / kg), bila diisi tanah maka akan membentuk dimensi diamater + 10 cm dan tinggi + 17,5 cm),
  • Lubang perforasi dimulai dari 1/3 bagian atas dengan jarak lubang 3 cm, dengan 2 baris lubang,
  • Warnah polybag hitam, bila disobek akan melar (tidak mudah sobek). 

TANAH
Untuk tanah yang baik, maka jangan gunakan sumber tanah dari hal - hal berikut ini yaitu :
  • Tanah subsoil,
  • Tanah areal tanaman kelapa sawit,
  • Berasal dari serangan ganoderma,
  • Draenase buruk, sering tergenang,
  • Batuan,
gunakanlah sumber - sumber tanah seperti ini :
  • Top soil yaitu 100 cm,
  • Tanah humus,
  • Liat berpasir, kandungan pasir 20 - 30%,
  • Bila tanah mengandung liat berat, tambahkan pasir kasar sebanyak 1/3 bagian tanah,
  • Tanah adalah tanah yang sudah diayak dengan ayakan 0.5 - 1 cm, 


PENGISIAN POLYBAG KECIL
  • Ingat media tanam benih yang baik yaitu top soil 10 cm, tanah humus, tanah liat berpasir mengandung 20 - 30% pasir, tanah dari drainase yang baik, tanah bebas hama, jamur dan penyakit, 
  • Tanah diayak dengan ayakan ukuran 0,5 - 1 cm,
  • Tanah ayakan dicampur dengan pupuk RP dengan perbandingan RP 50 kg : 2m3 tanah, hasil dari campuran tersebut dapat mengisi 1000 polybag kecil,
  • Tanah yang sudah mengadung pupuk RP diisikan ke dalam polybag kecil sampai penuh, pemadatan tanah cukup dengan menguncang - guncang polybag (jangan terlalu dipakasa hingga terlalu padat),
  • Polybag disusun 10 polybag kecil di bedengan yang sudah dipersiapkan, panjang barisan polybag atau bedengan disesuaikan kondisi dilapangan,
  • Sebelum ditanam tanah dalam polybag kecil disiram sampai jenuh selama satu minggu untuk pemadatan secara alami, bila ada tanah yang terlalu turun maka tambahkan tanah hingga menyisahkan 2 cm ketinggian bibir polybag.

PENANAMAN
  • Siapkan tampah plastik yang berisikan fungisida Thiram dengan konsentrasi dalam air 0,2%,
  • Buka kantong benih secara berhati - hati,
  • Masukkan benih kedalam tampah yang berisikan larutan fungisida 0,2% dari fungisida Thiram,
  • Seleksi kecambang yang layak tanam, pisahkan ke tampah kecil yang beralaskan kain atau karung basah yang sudah direndam fungisida Thiram,
  • Tanam kecambang dengan memastikan plumula diatas, terkadang menemukan benih yang tumbuh plumula dan radikula membentul leter "L" maka dalam kasus ini yang anda harus perhatikan adalah posisi plumula diatas, bila kita mengutamakan posisi radikula dan pluluma miring maka pertumbuhan dan akan terplintir,
  • Tutup benih setebal 1 cm, pastikan plumula tertutupi, jika tidak maka pertumbuhan bibit juga akan abnormal,

PERLAKUKAN BENIH BERJAMUR
Benih yang terserang jamur dapat diidentifikasi dengan melihat warna plumula dan radikula. Benih yang sehat berwarna putih lebih segar, sedangkan yang terserang jamur berwarna kekuning - kuningan.

Penyortiran ini dilakukan saat pembukaan kantong plastik dan dilakuan pemilihan yang dibagi menjadi beberapa bagian seperti afkir, double tone, terserang jamur, dan sehat.

Benih yang terserang jamur dikarantina dengan direndam fungisida merek Dethane dengan konsentrasi larutan 0,2% paling cepat 2 menit lalu ditanam ditempat terpisah khusus plot yang terserang jamur.

Catatan : apabila benih yang diterima mengalami kerusakan atau terserang jamur lebih dari 0.5% harus dilaporkan departemen riset atau atau quality control.


PERLAKUKAN BENIH DOUBLE TONE
Benih double tone atau lebih sering dijumpai, untuk saat ini belum ada riset yang menggali dampak dari penanaman bibit double tone. Untuk itu sebaiknya bibit double tone disemai ditempa terpisah seperti juga perlakukan pada benih terserang jamur.

Kesulitan yang sering dijumpai pada benih double tone yaitu saat penyemaian yaitu :
  • Kedua plumula berbeda berbeda arah hampir 360 derajat, bila dijumpai seperti ini maka salah satu tunas dimatikan,
  • Triple tone : bila hanya bisa menyelamatkan dua tunas, maka tunas satunya dimatikan,
  • Kedua plumula berbeda arah 180 derajat, maka diambil titik tengah sebagai garis vertikal arah penyemaian,
  • Kedua plumula sama arah atau hampir sama arah, maka bisa dilakukan seperti cara diatas.


PERLAKUAN BENIH AFKIR
Benih afkir seperti mati karena patah, atau tidak tumbuh tunas, dll dikarantina seperti benih terserang jamur, dan disemai pada plot tersendiri seperti perlakuan benih terserang jamur. Benih - Benih ini akan dipantau sampai hidup, bila benih ini hidup maka akan digabungkan dengan benih yang tersrang jamur.


CATATAN : KETIGA PERLAKUAN BENIH DIATAS PADA SETIAP PERUSAHAAN MEMILIKI KEBIJAKAN YANG BERBEDA, UNTUK ITU DIPERLUKAN KOORDINASI YANG BENAR TENTANG PEMANFAATAN KETIGA PERLAKUAN DIATAS. APABILA HARUS DITANAM KELAPANGAN, MAKA SEBAIKNYA DIBUATKAN PLOT DI BLOK - BLOK TANAM SUPAYA DAPAT DIPANTAU DAN MENJADI KEKAYAAN DATA PERUSAHAAN.


PENYIRAMAN
Kebutuhan air pada masa pre nursery berkisar 0,2 - 0,3 liter / hari atau apabila hujan pada hari sebelumnya 8 mm. Penyiraman bisa menggunakan gempor, atau selang yang dibeli kepala gembor, atau selang politen perforasi (misalnya sumisansui). Lama penyiraman selama 40 menit atau sampai jenuh. 

Catatan : Saat penyiraman jangan samapi merusak permukaan tanah pada polybag, gunakan kepala gempor yang benar - benar halu. 



PEMUPUKAN


Umur Bibit
(minggu)
Cara Aplikasi
(disemprot/disebar)
Dosis Pupuk
(gram)
Pada saat pengisian tanah ke babybag
Dicampur dengan tanah
10  gram RP per babybag
4
Disemprot/Disiram
30  gram Urea/15 liter air/500 bibit
5
Disemprot/Disiram
30  gram Urea/15 liter air/500 bibit
6
Disemprot/Disiram
30  gram Urea/15 liter air/500 bibit
7
Disemprot/Disiram
30  gram Urea/15 liter air/500 bibit
8
Disemprot/Disiram
30  gram Urea/15 liter air/500 bibit
9
Disemprot/Disiram
40  gram Urea/15 gram MOP/15 liter air/500 bibit
11
Disemprot/Disiram
40  gram Urea/15 gram MOP/15 liter air/500 bibit



PERHITUNGAN BENIH TUMBUH SETELAH 2 MINGGU - 1 BULAN SETELAH TANAM
Setelah dua minggu sampai satu bulan setelah tanam dilakukan perhitungan benih yang tidak tumbuh, bila benih tidak tumbuh lebih dari 2% laporkan kepada departemen riset atau quality control dan simpan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

SELEKSI BIBIT
Seleksi bibit di pre nursery dilakukan dua tahap yaitu pada umur 2 bulan setelah tanam dan pada saat transplanting.

Adapun jenis bibit - bibit yang diafkir yaitu :
  • Pucuk bengkong/ berputar : hal ini dikarenakan penanaman terbalik (plumula dibawah, sedangkan rakikula dibawah ),
  • Daun lalang / daun sempit : faktor genetik,
  • Daun kerdil dan sempit : faktor genetik,
  • Daun menyempit / tegak : faktor genetik,
  • Daun menggulung : faktor genetik,
  • Daun melipat : kekurangan air,
  • Bibit kerdil : kekurangan air / faktor genetik,
  • Chimaera : faktor genetik,
  • Terserang penyakit seperti bercak daun (jamur culvularia), daun membusuk dari tepi (anthracnose)yang disebabkan oleh jamur Botriodiplodia, Melanconium elaidis, dan Glomerella singulata.       

BAHAN KIMIA DI NURSERY

Insektisida


Merek
Sasaran
Dosis
Dursban 75
Belalang
2,0 – 3,0 ml/lt air
Diptrex 95 SP
Serangga pemakan daun
1,5 – 2,0 gr/lt air
Furadan 3 G
Serangga pemakan daun
20 gr/bibit
Orthene 50 SP
Serangga pemakan daun
1,5 – 2,0 gr/lt air



Fungisida


Merek
Sasaran
Dosis
Polyram Comby
J a m u r
2,0 – 3,0 gr/lt air
Tiram
J a m u r
2,0 – 3,0 gr/lt air
Captam
J a m u r
2,0 – 3,0 gr/lt air
Ditahane
J a m u r
2,0 – 3,0 gr/lt air



Herbisida


Merek
Sasaran
Dosis
Gramoxone
G u l m a
8,0 ml/lt air
Roud up
G u l m a
4,0 ml/lt air
Basmilang
G u l m a
4,0 ml/lt air
Polaris
G u l m a
4,0 ml/lt air
Basta
G u l m a
4,0 ml/lt air




Akarisida


Merek
Sasaran
Dosis
Tedion
Tungau Merah
1,5 – 2,0 ml/lt air
Rogor 40
Tungau Merah
1,5 – 2,0 ml/lt air
Mitac
Tungau Merah
1,5 – 2,0 ml/lt air
Plictron
Tungau Merah
1,5 – 2,0 ml/lt air



Catatan : Waktu aplikasi bahan kimia diatas adalah setelah penyiraman bibit, jangan setelah aplikasi lalu dilakukan penyiraman bibit, untuk itu diperlukan koordinasi antara pekerja pengendalian hama dan penyakit dengan petugas penyiraman bibit.


CONTOH BERBAGAI KONDISI KECAMBAH
Kondisi Penyemaian Benih




Umur Benih (Satuan Minggu)
Percepatan pertumbuhan plumula dan rakidula dipengarungi oleh suhu, bila terpaksa harus melakukan penyimpanan (tidak langsung disemai) maka simpan dalam ruangan yang bersuhu 20 deraja celcius.

Catatan : Benih yang sampai harus segera disemai, untuk perlu persiapan yang matang antara persiapan lahan dan pembelian benih. 





Culling Types


Sistem Pembibitan Satu Tahap (Single Stage)
Catatan : Menggunakan sistem pembibitan satu tahap harus menjamin persediaan air untuk penyeraman.






Bedengan di Tahap Pre Nursery
Pembibitan di pre nursery boleh saja tidak menggunakan naungan asalkan persediaan air dan penyiraman terjamin.

















Bersambung.....

Thursday, October 29, 2015

Tumbuhan Dan Tanaman Terbakar Tumbuh Kembali

Beberapa tanaman dan tumbuhan tidak mati terbakar.


Mucuna Bracteata

Mucuna Bracteata

Chromolaena odorata /  Rumput Putihan

Bamboo / Bambu
3 hari setelah terbakar

4 minggu setelah terbakar

Untuk tanaman terbakar, ini bisa dijadikan referensi bagi para auditor untuk investigasi dilapangan bahwa kelapa sawit tidak semudah itu mati. Kalau mati berarti kebun tersebut sebelum terbakar adalah kebun yang sangat semak (bermasalah) atau memang tidak ada tanaman sawit (bermasalah), untuk itu perlu diperiksa lebih lanjut.





bersambung....!!!!!!!!!!!!

ARTI DAN FENOMENA EL NINO

PENGERTIAN EL NINO
El Nino adalah suatu gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature - SST) di samudra Pasifik sekitar equator (equatorial pacific) khususnya di bagian tengah dan timur (sekitar pantai Peru) yang menyebabkan terjadinya penyimpangan pada kondisi atmosfer sehingga berakibat pada terjadinya penyimpangan iklim.Sumber lengkap BMKG.

SEJARAH PANJANG EL NINO
Pusat prakiraan iklim Amerika (Climate Prediction Center) mencatat bahwa sejak tahun 1950, telah terjadi setidaknya 22 kali fenomena el-nino, 6 kejadian di antaranya berlangsung dengan intensitas kuat yaitu 1957/1958, 1965/1966, 1972/1973, 1982/1983, 1987/1988 dan 1997/1998. Intensitas el-nino secara numerik ditentukan berdasarkan besarnya penyimpangan suhu permukaan laut di samudra pasifik equator bagian tengah. Jika menghangat lebih dari 1.5 oC, maka el-nino dikategorikan kuat. Sumber lengkap BMKG.

Di Indonesia, masih jelas dalam ingatan kita, pada tahun 1997 terjadi bencana kekeringan yang luas. Pada tahun itu, kasus kebakaran hutan di Indonesia menjadi perhatian internasional karena asapnya menyebar ke negara-negara tetangga. Sumber lengkap BMKG.

Sedangkan pada tahun 2015 juga terjadi el nino dalam kategori kuat sehingga menyebabkan kekeringan pada wilayah Indonesia bagian selatan equator. Bahkan kekeringan dan udara yang panas menyebabkan bencana kebakaran di wilayah selatan equator indonesia. Pada saat ini titik api terbanyak di wilayah Sumatera Selatan hingga lebih dari 700 titik api.
Pada tahun 2015 saat ini musim kemarau terjadi sejak pertengahan bulan Juli 2015 dan mulai terasa tidak turun hujan di wilayah Kalimanta Timur sejak satu minggu sebelum lebaran idul fitri. Dari tanggal 10 Juli 2015 hingga 29 Oktober 2015 hanya terjadi hujan satu kali, dan pada tangga 29 Oktober 2015 dini hari terjadi hujan pertama dengan ketinggian curah hujan 11 mm, dan pada pagi ini pukul 07:00 WITA hujan lebab dan masih berlansung.

DAMPAK EL NINO
Kekeringan / Kehabisan Persediaan Air

Bencana Kebakaran Lahan Produktif

Antisipasi Kekeringan (Aplikasi Jangkos) Menjadi Kerugian

Api Dapat Merambat Dari Pangkal ke Atas




Bersambung..........

Thursday, October 22, 2015

PEMBANGUNAN IRIGASI LIMBAH CARI KELAPA SAWIT ( LAND APPLICATION ) DI AREAL BERBUKIT / BERTERAS


RANCANGAN ANGGARAN
Untuk rancangan anggarannya silahkan download Budget Pembangunan POME
dan Estimasi BEP Investasi


DESIGN FLATBED
Dimensi PxLxD = 2.5 x 1 x 0.7. Exca PC 50 Dapat 7 rorak / HM

Rorak Tidak Kemasukan Air Saat Hujan

Air Melalui Proses Infiltrasi


Hasil Uji Coba Dengan Sistem Underflow

Kapasitas Flatbed Areal Datar, Difungsikan Sebagai Lokasi Emergency
Hasil Uji Coba Di Areal Datar




Irigasi Dengan Sistem Gravitasi

PERMASALAHAN DAN SOLUSI
  1. Ball valve 4" yang berada di lokasi rendahan mudah rusak karena tekanan volume air yang naik katas. Solusinya jangan memasang ball valve tersebut terlalu dekat dengan sambungan TE pipa primer 6".
  2. Sulit mengganti ball valve 4" yang rusak karena posisinya terlalu dekat antara pipa primer 6" dengan kolam distribusi. Solusinya yaitu pasanglah ball valve tersebut di ujung yang menuju kolam distribusi, jadi bila ball valve tersebut rusak tidak sulit seperti memasang ball valve diantar dua sambungan.
  3. Tidak bisa membuka ball valve 4" yang mengarah ke kolam distribusi karena tekanan air yang tinggi. Solusinya yaitu bukalah terlebih dahulu ball valve - ball valve yang ingin mengisi kolam distribusi, setelah dibuka lalu dihidupkan mesin pompanya. Memaksakan membuka ball valve pada tekanan air tinggi dapat menyebabkan kerusakan ball valve.












bersambung........

Wednesday, October 21, 2015

KUMPULAN PERCOBAAN / PENELITIAN

PENGENDALIAN Chromolaena odorata
Menggunakan Herbisida Glyphosate + Triclopyr 75 + 10 : 12 Liter Air
Menggunakan herbisida glyphosate dan triclopyr dengan konsentrasi masing - masing yaitu glyphosate 75ml + triclopyr 10 ml dalam 12 liter air. Efikasi terhadap gulma sasaran tidak konsisten terutama pada Chromolaena  yang sudah tua dan tinggi.

Menggunakan Herbisida Glyphosate + Triclopyr 100 + 15 : 12 Liter Air
Menggunakan herbisida glyphosate dan triclopyr dengan konsentrasi masing - masing yaitu glyphosate 100 + triclopyr 15 ml dalam 12 ml liter air. Efikasi pada Chromolaena yang tidak tua ( < 2 meter ) konsisten, namun yang sudah tua > 2 meter masih tidan konsisten.

Menggunakan Herbisida Glyphosate + Triclopyr + Surfaktan 100 + 15 + 12 : 12 Liter Air
Menggunakan herbisida glyphosate dan triclopyr dengan konsentrasi masing - masing yaitu glyphosate 100 ml + triclopyr 15 ml + Surfaktan 12 ml dalam 12 liter air. Efikasi pada Chromolaena konsisten untuk segala umur.




PENGENDALIAN BAMBU LIAR
Menggunakan Herbisida Triclopyr + Gramoxone + Surfaktan + Solar ( Larutan Emulsi ) 1:1:0.2:10
Dengan cara disiramkan langsung ke batang dan rumput hingga merata. Pada bambu yang besar dengan tinggi 8 meter, bambu tersebut tidak mengalami gejala keracunan herbisida, sedangkan pada bambu kecil - kecil mengalami gajala keracunan herbisida dan mati. Namun pada bambu - bambu kecil dengan diameter rumput > 1 meter bambu tersebut hanya mengering namun tumbuh kembali.

Menggunakan Herbisida Triclopyr + Solar 1:10
Perlakuan dengan cara menebas pangkal batang bambu hingga mepet ke tanah. Alat yang dignakan harus kampak yang sangat tajam, bila menggunakan parang akan lebih sulit dan tangah sakit menahan getaran saat menebas. Setelah bambu - bambu sudah habis ditebas dengan kampak, kemudian bersinkan permukaan bonggol yang sudah ditebas dengan sapu, cara ini untuk memastikan bidang bonggol yang akan poisoning / dioles herbisida dan juga supaya herbisida bisa langsung kontak dengan bonggol. Setelah terlihat seluruh bidang bonggol bambu, kemudian lukai bonggol bambu dengan cara mencacah - cacah dengan sembarang yang bertujuan untuk membuka jaringan bonggol akar bambu. Setelah itu barulah disiramkan larutan herbisida ke permukaan bonggol. Cara ini sangat efektif, bambu tidak tumbuh kembali. Satu bonggol dengan diameter 2 meter dapat diselesaikan selama 2 jam dengan jumlah 2 orang. Kemampuan satu tim yang berjumlah 2 orang hanya dapat menyelesaikan 2 - 3 rumpun dalam waktu 7 jam.

Dengan Cara Di atas Menggunakan Herbisida Methyl metsulfuron + Air 1:10
Hasil tidak efektif, bambu tumbuh kembali.

Dengan Cara Di atas Menggunakan Herbisida Glyphosate + Air 1:10
Hasil tidak efektif, bambu tumbuh kembali.


PENGENDALIAN PISANG LIAR
Kalau pengendalian pisang ini sangat sederhana. Buatlah batang - batang kecil seperti tusuk sate, boleh terbuat dari bambu, atau jenis kayu lainnya, yang paling bagus ranting kayu yang kuat namun memiliki inti batang berbentuk busa.
  1. Keringkan batang yang sudah kita bentuk tusuk sate, pastikan benar - benar kering.
  2. Lalu batang tusuk sate itu kita rendam kedalam herbisida glyphosate selama satu malam, apabila kita menggunakan batang tusuk sate yang banyak menyerap herbisida, maka batang tersebut lebih baik.
  3. Pilih batang pisang yang paling besar di antara rumpun pisang tersebut, tusukkan sekitar 15 cm dari pangkal batang hingga menembus inti batang dari pokok pisang tersebut.

Hasil ini efektif, apabila kita tepat memiliki batang yang akan kita racuni, maka seluruh rumpun akan mati, kalau masih ragu, tusuk saja seluruh pisang yang ada, ingat penusukan harus sampai ke inti batang.

GAMBAR TANAMAN INANG PREDATOR ULAT PEMAKAN DAUN KELAPA SAWIT (UPDKS)












Tanaman bermanfaat diatas yang paling umum dibudidayakan di perkebunan kelapa sawit yaitu Turnera subulata, Turnera ulmifolia, Casia tora, Antigonon leptopus, dan Euphorbia heloscopia. Sedangkan tumbuhan lain biasanya sudah tersedia di alam secara liar. Sebagai planter yang pintar sebaiknya kita harus benar-benar cermat dalam pengendalian gulma supaya tumbuhan yang bermanfaat tidak musnah.

KALIBRASI ALAT SEMPROT HERBISIDA

Dilakukannya kalibrasi alat semprot bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi dan nozzle yang tepat supaya herbisida yang kita gunakan efektif dan efisien. 

Dalam menggunakan alat semprot perlu diperhatikan faktor - faktor berikut ini :
  • Jumlah produk,
  • Kecepatan jalan pengguna alat semprot,
  • Tekanan semprot,
  • Ukuran nozzle,
  • Jenis nozzle,
  • Bidang semprot ( jenis, ketebalan atau ketinggian target),

RUMUS KONSENTRASI LARUTAN (KL)


















RUMUS VOLUME SEMPROT (VS)














LANGKAH - LANGKAH KALIBRASI
  1. Ukur Curah Nozzle (CN), ( liter / menit ),
  2. Pasang kertas peka sepanjang jalur semprot, 
  3. Hitung Kecepatan Jalan (KJ), ( meter / menit ),
  4. Ukur Lebar Semprot (LS), ( meter ), 
  5. Hitung Volume Semprot (VS), ( liter / Ha )
  6. Masing - masing  langkah diulang 3 X , kemudian diambil rata - ratanya.
  7. Hitung droplet ( jumlah butiran semprot ) / Cm2 
  8. Ambil  kesimpulan hasil aplikasi
Lakukan langkah - langkah tersebut di luasan 25 m2, dan catat seluruh data dan buat kesimpulan.


CATATAN
Untuk menentukan konsentrasi larutan herbisida, perlu dilakukan percobaan (demplot herbisda) sedikitnya 3 demplot per satu perlakuan, tujuannya untuk melihat konsistensi efikasi dari larutan yang kita racik. Raciknya larutan herbisida dari konsentrasi terendah hingga tertinggi.

Perlu diingat bahwa mengunakan konsentrasi terlalu tinggi berdampak pada resistensi gulma, pencemaran, pemborosan, dll. Sedangkan terlalu rendah konsentrasi larutan berdampak pada efikasi herbisida yang rendah, dan kerugian tenaga kerja.